Senin, 06 November 2017

Have you introspected yourself?



Judulnya cliche banget ya?
Tapi, beneran, have you truly really introspected yourself?
But be careful, too introspection can cause overthink or flopping yourself


Sebenernya jalan Tuhan yang dikasih ke kita itu beneran rahmat dan berkah banget, setiap jalan kita dan setiap detiknya, tergantung gimana kamu menyadari dan menyikapinya. Disaat kamu mau ambil jalan A tapi ternyata tidak direstui Tuhan dan tanpa sadarnya kita, kita dikasih jalan B yang jauh jauh jauuuuh lebih baik untuk kita, kalau kamu sadar disaat itu juga, sungguh besar banget bangeeeeeet kebesaran Tuhan itu rasanya. Jadi kalau ada planning kamu yang tidak jalan semestinya, lets say, "what the next miracle ya?"

Jadi cerita awalnya kenapa aku kepingin sharing hal-hal seperti ini berawal dari lingkungan terdekat aku yang bikin terasa gerah dan harus move on dari keadaan saya sebelumnya. Alhamdulillah kondisi fisik aku udah cukup kuat untuk bisa beraktivitas seperti biasa, seperti berkarya dan sedikit bekerja pelan-pelan dirumah. Nah, memang ada moment-moment pait banget sampai akhirnya aku sadar inilah penyemangat aku biar aku bisa segera mandiri. Disaat moment pait ini, namanya juga manusia ya, paling suka banget kan ngomongin keburukan orang, apalagi orang itu merugikan kita berkali-kali ngga pake pandang waktu mau itu pagi, siang, sore, malam. Paling sedap lagi pas sharing keburukan orang itu ada sesama korban dari orang tersebut. Makin anget dan akrab banget rasanya ngobrol sama sesama korban 😆

Pada akhirnya, aku sendiri merasa harus segera bangun dan harus banget segera move on dari masa-masa ngga enak seperti ini. Doa, usaha, dan tanya sana sini untuk memperlancar langkah lanjutan. Karena kondisi pait udah makin terasa ngga enak, rasanya usaha-usaha kemarin kok kaya terasa nihil dan ga ada hasilnya banget. Kesel dari dua faktor. Agak cenderung putus asa itu pasti. Dan dengan keteguhan dan percaya dengan kebesaran Tuhan, rasa-rasanya cara-cara aku kemarin ada yang salah. Jadilah aku searching apa yang salah dari usaha-usaha aku kemarin, termasuk apakah ibadah dan doa saya sudah benar atau gimana.

Dan inilah hasil analisis dari sebuah blog yang aku temuin. Ternyata apa yang aku lakukan itu selama ini salah banget, menjadi kebiasaan karena pemakluman lingkungan sekitar yang setiap harinya semua orang lakukan. Apa itu?

Apa yang membuat doa-doa kamu ditunda dikabulkan yaitu ada beberapa faktornya :
  • Seperti halnya aku, aku mengaku mengenal Allah, tapi aku ga memenuhi hak-hak Allah yang sudah banyak ditulis di Quran
  • Mengaku mencintain Rasulullah, tapi ga pernah melakukan sunnah-sunnahnya
  • Baca Quran setiap hari, tapi ga memaknai dengan benar isi-isi di dalamnya
  • Tau banget kalo setan itu musuh utama kita, para manusia, tapi tetep aja melakukan apa pun rayuan-rayuannya
  • Nah, inilah yang paling bikin aku nyesek banget, selalu sibuk menghitung dan mengumbar-umbar aib orang lain, padahal kita sendiri pasti banyak banget aibnya dan pastinya kita ga pengen aib kita kedengeran secuilpun sama orang lain
  • Percaya kita pasti bakal mati, tapi kita ga mempersiapkan diri buat menghadapi kematian itu sendiri
  • Setiap saat kita sebenernya dikasih nikmat dan rejeki buanyaaak buangeeet tapi selalu lupa siapa sih sebenernya yang udah ngasih semua nikmat itu, lupa bersyukur

Nah point-point diatas tadi udah pernah aku share di instagram story aku, dan ada beberapa temen-temen aku yang terasa "tertampar" sama point-point diatas. Karena kita terbiasa hidup seenak kita, dan menjalani hidup dengan judul "yang penting udah ibadah, udah inget Allah" tanpa meng instrospeksi diri sendiri.

Setelah aku dalami, makin banyak dan makin sering aku ngomongin keburukan seseorang, ternyata tanpa aku sadari sebenernya aku pun selalu dan sering bertingkah kaya gitu. Kaya contohnya, aku selalu kesel sama orang yang arogan dan meremehkan orang lain, dan ternyata, beberapa bulan kemarin rasanya cara berbicara aku sama teman-teman ga jauh dari sifat arogan dan meremehkan orang lain. Rasanya kalau menggambar, part yang salah pengin aku hapus pakai penghapus sampe putih lagi, tapi kalau hidup kan, ya sudah. Kata-kata yang keluar dari mulut aku cuma bisa nempel di memori teman-teman yang mendengarkan atau yang baca (in case status aku di sosmed).

Se simpel itulah kalau kamu percaya karma. Kalau menurut aku kalau kamu selalu membicarakan keburukan, tanpa kamu sadari keburukan itulah yang selalu ada di dalam diri kamu sendiri. Jadi, detox otak dan mulut kamu dari sekarang. Introspeksi, rem semua omongan buruk tentang orang lain. Semoga kita semua jadi manusia yang istiqomah yaa

Senin, 11 September 2017

I called this part of my life : lupa daratan

Manusia pada hakikatnya pasti
lupa daratan. Lupa jasa orangtua, lupa kebaikan teman lama, lupa kerja keras waktu diawal perjuangan, dan lupa lainnya kalau lagi dipuncak. Entah sedikit atau banyak.


Boleh ya out of topic dikit, ini agak sedih sih foto2 aku yang terbaru ga bisa diupload di blog karna masih newbie di blog2 begini. Jadi akhir2 ini isi blognya polos ga pake warna warni dikit gitu. 

Anyway, ada yang pingin tau kabar terbaru aku? Ga ada yg mau? But still, im gonna tell you a story hahaha. Ya, terhitung september taun lalu saya memang pernah drop lagi, setelah cerita yg terakhir aku udah bisa sembuh berkat terapi alternatif, well, maybe i have a little regret for that "therapy" concept. Setiap di terapi, apa ini masih bisa diterima di jalan agama aku atau malah menyimpang, dan katanya orang2 kalau di kitanya ragu otomatis "obat" dari hasil terapinya ga bisa terserap. Jadi alhasil pada suatu malam aku tiba2 terbujur kaku diatas kasur tipis biasanya aku bedrest, digerakkan sedikiiiit aja itu rasanya sakit linu luar biasa. Udah kaya manusia pohon yg pernah heboh banget diberita itu lah pokonya.

Akhirnya dengan segenap pinjam duit sana sini ditambah ibu nangis beberapa hari meminta maaf ke aku kalau keputusan berobat ke rumah sakit jadi sangat terlambat karna masalah ekonomi, aku akhirnya dilarikan ke rumah sakit tulang yg dipercaya disini. Dokter ahli ortopedi hasil rekomen sesama skolioser bandung ini bilang, penanganan sakit aku udah sangat amat terlambat untuk ukuran skoliosis kurva kecil, sampai beliau bingung skoliosis kecil begini ko efeknya sampe udah kaya gimana banget gitu. Akhirnya dokter bilang baiknya aku menginap dulu beberapa hari sampe syaraf dan ototnya bisa diajak kerjasama dulu.

Setelah pulang dari nginap di rs 4 hari, lalu diberi tips dan trik dari dokter bagaimana posisi tidur yg baik untuk aku, aku akhirnya direkomendasikan juga terapi ke fisioterapi. Long story short, aku jadi langganan fisioterapi di rs tempat aku nginap itu, sekitar 7 bulan aku rutin sampai akhirnya dokter dan para suster terapi setuju kalau progres aku udah sangat jauh membaik tinggal dikuatkan aja otot punggungnya dengan latihan2 peregangan khusus dan berenang minimal seminggu sekali.

Akhirnya di bulan juni saat aku kemarin ulang tahun itu, yang aku bilang aku akhirnya lepas tongkat (lagi), dari situ aku udah seperti layaknya wanita usia 28taun yang produktif. Nongkrong bareng temen2, mulai kerja, bantuin keluarga sedikit2, pokonya duduk lebih dari 2 jam? Siapa takut.

Lupa daratan. Merasa sembuh, aku yang mulai terintimidasi sama kondisi sosial yang masih belum bisa mulai kerja sepenuhnya dan ingin segera berkeluarga, aku ngotot berdoa, kapan aku sembuh total, kapan aku bisa kerja normal lagi, kapan aku bisa nikah dan punya anak. 3 hal itu terus yang ga pernah luput dari doa2 setiap harinya. Dan dijawablah doa aku. Dengan kembali tumbang. Rasa kesemutan, sensasi2 kesetrum di telapak kaki, sakit di sekujur kaki, punggung yg ga ramah lagi dipakai posisi tidur seenaknya, seperti kemarin lagi. Aku frustasi. Aku nangis sejadi2nya. Aku curhat sama ibu kenapa aku dikasih sakit lagi. Denial. Denial. Denial. Persis sama seperti di awal taun 2016 lalu.

Lalu akhirnya aku menemukan sebuah cerita seorang wanita. Tentang perjalanan hijrah spiritualnya. Lalu terucaplah kalimat yang bikin aku bangun dari tidur penyangkalan ini. Ikhlas. Dia dikasih hadiah dari Allah yang ga dia duga2 setelah dia pasrah dan menerima semua jalan yang diberi oleh Allah. Ikhlas. Lalu aku tersadar, kenapa aku bisa dengan beraninya mengatur dan meminta secara paksa kapan aku bisa kerja dan menikah, kenapa kamu ga kembali menerima semua keadaan kamu?

Melihat jerih payah teman2 aku menjadi ibu, menggendong anaknya, bergadang, harus bisa lari kesana kemari, memapah anaknya jalan, dan lain sebagainya, memang fisik aku sudah mampu itu semua? Buat menghidupi diri sendiri pun masih susah, lari pun belum mampu, masih gatau diri meminta menikah dan punya anak. Mungkin Allah masih punya rencana lain, biar aku fokus sama pemulihan aku secara total. Lagi2 seharusnya aku pasrah dan penerimaan diri. Kita boleh berencana, tapi rencana Allah jauh lebih baik. Bukannya putus harapan, ini yang namanya pasrah kepada Allah. Tetap ikhtiar tanpa ngotot ngoyo minta ini itu sama Allah.

Penerimaan lahir ikhlas. Ikhlas lahir menikmati hidup tanpa beban. Menikmati hidup lahir mencintai Allah. And nothing else without fall in love with my Rabb. Allah. Allah. Allah.

Minggu, 04 Juni 2017

Little Though : Edisi Tambah Umur


Like an usual, the day we're celebrate our born day we feel very blessed, grateful, and feel like the center of the attention

Yes, i feel like that too, but no, it isn't i have a birthday present or a birthday surprise. My acceptable moment bring me always blessed and respect what people's effort and give it to me.
Jadi, udah berbulan - bulan aku punya mimpi ingin mulai bisa bekerja lagi, tapi setiap ada kesempatan, badan belum kasih ijin untuk bisa aktif lagi. Up and down, my mood is like a roller coaster at the moment. Saat titik ini aku akhirnya diberi ijin oleh Alla, oleh badanku, dan oleh waktu untuk di segerakan bangun dari tidur nyaman aku. Aku secara tiba - tiba memutuskan untuk bisa apa - apa pergi sendiri dan melakukan sendiri, diawali bawa mobil sendiri. Orang tua sempat berdebat dan ragu, tapi saran ibu, "Kalau kita, sebagai orangtua, kasih ijin setengah - setengah, mental anak jadi ragu - ragu dan malah bisa jadi berbahaya" ibu menganut restu orangtua jadi kelancaran si anak. Aku sepenuhnya setuju

Dan akhirnya setelah aku nekat pergi sendiri, baru sekali ini aku ngeliat ekspresi bapak yang sangat amat senang, ibu yang sangat amat bersyukur, ditambah aku mulai nekat berjalan sendiri, tanpa bantuan alat apapun, walau masih agak pelan - pelan. And that's are my precious birthday present ever. See their expression and got a very grateful result, layaknya seperti ngeliat anak bayi nya bisa memulai langkah pertamanya dengan sempurna. No need anything else.

Jumat, 26 Mei 2017

I'm Glad this is Me

Manusia terlahir dengan ceritanya masing - masing. Ada yang penuh nikmat dan kebahagiaan, ada yang selalu kurang beruntung, but they're not complaining until someone judging or comparing to the others.

Aku bersyukur punya masa lalu yg penuh kesalahan. Kalo sering diinget inget sebelum bobo suka malu sendiri, kadang jadi merundungi diri sendiri ato paling parah sampe nangisin diri sendiri. But i realized that process are leading to me to this kind of situation. Im glad with my silly past and also my frustation moment. Im glad to learn how i must being blessed, how Allah loves me so much, and bye bye my past. Im not going to do the same mistake.

How about you? Do you love your past?

Selasa, 25 April 2017

The greatest time


Butuh waktu sampai akhirnya sadar kalau momen ini, momen paling di anugrahi sepanjang hidup.


Semua orang pasti ngerasa, setelah tau ternyata di badan kita ada penyakit yang katanya ga bisa disembuhin itu rasanya langsung masa depan yang ada di depan mata runtuh semua. Jujur sih, waktu itu rasanya bener bener ga pengen berusaha berobat, toh aku bakal bed rest seumur idup, ga bisa duduk ga bisa jalan, cuma bisa diem di dalem kamar, tiduran. Rasanya harus tiduran menatap pemandangan yg sama setiap hari, makan, minum, pipis, mandi, sikat gigi semua di tempat tidur. Kalau untuk pup, mesti dibantu di angkat ibu, ditemenin di deket kamar mandi, jadi kalau udah selesai mesti kabarin ibu yg diluar kamar mandi, macem jaman kita kecil dulu. Alhamdulillah memang, doa dan dukungan ga pernah berenti dari keluarga juga semua temen temen, ga pernah nyangka yg doain juga perhatian sama aku banyak banget.

Kalau lagi agak semangat, aku selalu browsing cari tau cara berobat yg sesuai, tanya temen yg tau atau yg sesama skolioser. Sampai aku cari tau grup dan masuk ke dalem komunitas skolioser indonesia. Dari pengalaman mereka semua, sebenernya yg bikin aku agak bingung, diluar sana yang kurva nya jauh lebih besar dari aku, mereka minimal seengganya masih bisa beraktivitas normal, bahkan kerja seperti biasa. Walaupun kalau mereka terlalu cape ada yg sampai sesak nafas, pegal pegal, kesemutan, dan sakit punggung yang dasyat banget. Tapi ga ada yang sampe kaya aku, padahal kurva aku ga sampe 20°.

Kalau mulai setelah magrib, biasanya mulai kesemutan di kaki, merembet langsung linu linu di sepanjang paha, terus terasa nyeri hebat ke pinggul sampai punggung. Sakit dasyat kaya gini seringnya bikin aku ga bisa tidur semaleman, setelah matahari terbit aku baru bisa tidur. Rasa sakit super dasyat ini sering bikin putus asa dan rasanya pengen diakhiri aja hidup aku detik itu juga, sambil bertanya tanya kenapa sakit kaya gini ga bikin mati aja sih?

Sampai akhirnya aku udah di ujung putus asa, tapi memang hakikatnya manusia, pasti masih butuh pertolongan walaupun cuma sekedar kata kata dukungan. Aku curhat ke salah satu temen aku, dia ngasih tau aku secara lembut kalau, aku mestinya yakin sama Allah. Semua sakit, sembuh, kaya, miskin, semua berawal dariNya. Semakin aku menyangkal, marah, benci, semakin sakit fisik dan psikis aku. Terima aja semua keadaan dengan lapang dada, iklas, pasrah, berdoa, insyaallah semua beban diringankan. Seketika aku langsung nangis sejadinya, minta ampun dosa, berdoa lebih banyak dan diperbaiki semua ibadah aku yang masih banyak salah dan bolong.

Seiring waktu memang beban terasa lebih ringan, legowo itu memang susah diraih, sekalinya diraih ketenangan hati ga akan bisa dideskripsikan lagi. Memang sekali waktu kalau liat di sosmed aku masih bisa ga terima kenapa semua orang masih bisa bersenang senang kalau aku harus bed rest kaya gini. Tapi aku memang ga boleh menyalahkan keadaan, harus aku yg bisa introspeksi diri apa di aku yg salah, dan semua susah payah ini pasti ada ujung bahagianya.

Seperti yang pernah aku baca,
"perjuangan orang yang sedang melawan sakitnya sama dengan perjuangan orang yang sedang perang jihad. Bersabarlah, karna di ujung perjalanan nanti kamu pasti mendapat kemenangan, menang mendapat kesembuhan atau menang masuk syurga karna sudah berperang jihad (melawan sakit)"

Bapak dapet info dari temennya kalau di deket rumah ada tempat terapi alternatif yang dulu bisa menyembuhkan penyakit anaknya, jantung anaknya bermasalah dan sekarang udah sehat total. Karna kondisi keluarga ga bisa berobat terlalu jauh, dana terbatas, jadi ini jawaban paling tepat. Aku coba terapi disana seminggu dua kali. Jalan 3 bulan memang terasa hasilnya, pelan pelan aku bisa lepas tongkat, bisa duduk berjam jam juga. Akhirnya seiring aku bisa menerima keadaan aku, pasrah semua sama Allah, ikhtiar yg saat itu tepat buat aku, aku akhirnya bisa sembuh total setelah lebaran! Udah bisa jalan jalan keluar kota sama keluarga gitu ceritanya.. semua keluarga juga bersyukur waktu2 terburuk udah lewat dan semoga aku bisa kembali normal.

Aku yang dulu selalu mengutamakan main main, kelayapan sama temen temen sampe tengah malem, ga pernah mau diem dirumah, aku yang sekarang jauh lebih menghargai keluarga, karna siapa lagi selain keluarga yang selalu ada buat kamu disaat waktu terburuk kamu? Yang selalu support tenaga, waktu, dana, semuanya buat kamu tanpa syarat.

Senin, 24 April 2017

New chapter (?)


Life, kalo kamu ngga bisa menerima keadaan, maka keadaan itu bakal jadi terasa lebih berat dan makin berat. Kaya luka tergores, kecil, tapi kalau dirasa rasa akan terasa perih banget. Pernah ga apapun masalah kamu, kamu memutuskan untuk menerima semuanya? Seburuk apapun itu, semakin kamu tidak menerima, semakin bikin sakit di jiwa kamu bahkan di fisik kamu.


Setelah berminggu minggu akhirnya dapet lagi nih mood meneruskan cerita. Diinspirasi oleh blog seseorang gitu tadi ga sengaja nemu, sampai detik ini memang kondisi aku belum sepenuhnya stabil, fisik juga psikis, disaat krisis dukungan termasuk dari keluarga, ya satu satunya motivator aku salah satunya dari cerita inspiratif seseorang. Semoga cerita aku menginspirasi juga untuk semua.

Awal tahun 2016, niatnya jadi titik balik setelah merasa tahun 2015 itu jadi titik terendah di hidup aku. Mulai berencana bangun bisnis kecil kecilan, cari inspirasi sana sini biar tetep semangat walaupun dimulai dari hal hal kecil. Mulai aktif olahraga ringan biar mencegah sakit yg lama kambuh lagi. Memang selama setelah sembuh, sempet sakit yg menurut aku agak gak normal kaya, punggung sering sakit bahkan sampe demam. Atau pernah sakit di daerah pinggul padahal menstruasi baru selesai, sakitnya kebangetan soalnya biasanya kalo sakit nyut nyut gitu kan suka ada jeda mereda, ini sakitnya terus menerus sampe demam sampe ga bisa bergerak seperti duduk atau tidur miring.
Pergi ke dokter katanya hanya sakit lambung biasa. Tapi alhamdulillah, sakit dasyat kaya gitu sampai sekarang ga muncul lagi.

Sampai akhirnya aku diajakin teman aku, katanya ada pengobatan pijat refleksi yang gratis (beneran gratis, kalau kepengen banget bayar lebih baik bawakan minum atau makanan ringan untuk para pasien yang antri aja) dan banyak yg sembuh dari situ. Kebetulan waktu itu aku ngerasa udah kaya ada sakit di punggung sedikit, dan agak mengganggu juga. Akhirnya aku coba coba aja, toh minim resiko. Terapi seminggu dua kali, dan udah jalan sebulan lebih rasanya belum ada progres sih, tapi karna perasaan belum terlalu mengganggu aku ngga terlalu pikirin.

Kira kira pertengahan bulan maret, udah mulai ada gejala lain, kaki kanan aku mulai kesemutan. Waswas dong takutnya penyakit lama dateng lagi, karna awal gejalanya salah satunya kesemutan. Kata ibu sama bapak, mereka bilang mungkin rematik lama kambuh atau asam urat (?), akhirnya beliau belikan aku obat herbal dulu untuk meringankan si kesemutannya. Agak merasa janggal karna masa iya umur 20an udah kena asam urat. Karna udah jenuh tebak tebakan, ahirnya aku periksa sendiri ke rs dekat rumah, ke dokter internis. Dokter bilang harus di cek darah dulu, dia curiga aku kena tbc tulang. Selama jalan jalan sendirian di rumah sakot segede mall itu, kaki udah agak kaku dipake banyak jalan, ahirnya minta dikirimkan tongkat kruk (teman lama aku, hiks) untuk bantu jalan. Saat itu aku udah hopeless, kenapa aku harus ditemenin sama tongkat kruk lagi, aku gamau kaya dulu.

Setelah 2 hari, hasil lab bilang semua negatif. Konsultasi ke ibu, ibu bilang ga usah ke dokter lagi, lanjutkan aja pake obat obat herbal. Aku yang ga punya dana mandiri cuma bisa manut. Oya, saat itu memang kondisi ekonomi keluarga memang sedang agak anjlok. Buat beli makan sehari hari aja udah super di irit banget, ditambah aku yang tiba tiba sakit lagi bikin tambah pikiran orang tua. Aku selama mulai susah jalan lagi juga ga berani untuk minta berobat yg lain lain lagi, takut bikin tambah stres.

Sampai akhirnya aku dateng ke acara tunangan teman terdekat aku, yang dulu satu tempat tinggal waktu di Jakarta, ingat? Pertama kali nya aku show off lagi pakai tongkat kruk di depan banyak orang. Kondisi aku ini bikin si calon mertua temen aku itu ngajak ngobrol ke aku dan tanya kronologi nya. Akhirnya beliau rekomendasi tempat beliau berobat dulu, pakai teknik sinshe. Si bapak sinshe ini domisilinya di jakarta, awalnya beliau minta aku yg datang kesana, karna kondisi aku ga ada yg bisa temenin ke jakarta aku terpaksa tolak. Eh, taunya beliau yg mau dtg kerumah!

Singkat cerita, setelah diobati sinshe, hasil analisisnya adalah penyebab kaki jadi kaya gini kemungkinan besar masalahnya ada di pinggang, entah itu ada syaraf terjepit, atau ada masalah di tulang ekornya. Dugannya aku kayanya pernah kena trauma di daerah pantat. Pas diingat ingat, aku memang pernah jatuh di kamar mandi, terpeleset l, jatuh terduduk. Dari situ nampaknya terjawab karna rasanya udah beberapa minggu ke belakang punggung agak sakit dan kalau duduk agak lama pinggang juga ikut sakit. Itu jawaban paling masuk akal sejauh ini. Akhirnya aku dikasih obat banyak benerrr sama beliau. Katanya sekalian memperkuat kinerja jantung juga memperlancar darah.

Nah, puncak cerita berawal dari sini. Setelah 5 hari minum obatnya, kok aku malah ngerasain sakit paling hebaaattt di punggung sampai ga bisa jalan banget apalagi dipake duduk. Terlalu shock, sampe nangis ga bisa berenti. Ibu sama bapak sampe bingung liat aku nangis, harus diobatin pake apa, harus digimanain, harus apa? Tiap aku kesakitan sampe nangis nangis, ibu jadi nemenin terus di kamar sampe sakitnya mereda. Bapak yang gampang panik, kepengen banget bawa anaknya ke igd tapi apa daya dana lagi ga punya sama sekali. Akhirnya bapak bilang dibawa aja ke dokter kenalannya, deket rumah juga sebenernya.

Dokter ini sebenernya dokter umum disini, tapi menurut aku beliau banyak tau, ga hanya sekedar kasih analisis kasar kaya dokter sebelum2nya. Analisisnya, dia minta aku harus di ronsen dari dada sampai pinggul, cek darah rematik, tbc tulang, asam urat juga untuk jaga jaga. Hasil cek darah negatif semua. Dan ketauanlah dari foto ronsen ini. Aku punya tulang belakang berbentuk 'S' yang kurva nya sebenernya masih kecil derajatnya, jadi ga perlu di khawatir, cuma bantalan tulangnya ada yg sedikit menjepit ke arah depan di dekat pinggul, yang bikin si syaraf terjepit, otot sekitar pinggul dan punggung tertarik ke atas, yang akhirnya terganggu ke bagian kaki. Tapi menurut beliau lebih jelasnya harus di MRI, dan konsul ke dokter ortopedi. Parahnya, setelah bapak tanya apa bisa sembuh, dokter ini bilang memang ga bisa sembuh sih, dan sepengetahuannya sembuh kalau di operasi, denger itu bapak langsung kaget ditambah panik. Aku juga dengernya ikut ikutan shock denger kata ga bisa sembuh (yang padahal kurva nya masih rendah jadi minim resiko) rasanya pengen pingsan di tempat.

Dari situlah si bapak karna ga mau anaknya dioprasi, yg seharusnya ditanya ke dokter ortopedi yg ahli di bidang tulang belakang dulu untuk jelasnya, menyimpulkan sendiri kalau aku ga perlu ke dokter lagi. Harus secepatnya cari tempat pengobatan alternatif yg bisa sembuhin sakit aku yg kaya gini. Sebetulnya aku ga suka, ya tapi mau apa lagi karna berobat dokter memang ga murah.

Cerita sesi satu udah kepanjangan, aku lanjut di page berikutnya yaa.

Minggu, 26 Maret 2017

Re-position the habit


Manusia, cuma harus ditegur dulu sama Tuhan biar bisa memperbaiki gaya hidupnya jadi lebih bener.


Dulu itu aku anaknya pecicilan banget, gak betah diem dirumah barang sehari doang. Bawaannya pengen aja jalan2, yang penting keluar rumah mau cuma tidur2an di kostan temen sambil ngegosip, ngerumpi di mall atau cafe, jalan2 keliling kota, atau bantuin temen jualan di bazaar yang penting ga diem dirumah. Sampe pernah baru pulang dari Jakarta langsung mampir rumah temen cuman buat ketemuan sama yang lainnya, terus ikutan nginep disana, besoknya pulang kerumah cuman mandi terus pergi lagi ikut hiking. Itu nyaris aja dipecat jadi anak sih hahahaha. Jadi anak ga inget keluarga banget emang.

But things got changed since Februari 2015 happened. Setelah si dokter bilang sakit RA itu selalu simetris, jadi kebayang2 sendiri gimana kalo sendi di kaki ikut kena sakit, aku jadi lumpuh gitu? Gimana rasanya jadi lumpuh? Karna sering kepikiran akhirnya tersugesti terus dan mulai agak terasa linu sedikit kalau udah kebanyakan jalan atau lari2 ngejar kereta MRT. Akhirnya pulang lagi ke Bandung untuk check up and finally, sehari sebelum check up secara ajaib kaki dua2nya langsung terasa linu banget dipake berdiri, pergelangan kaki mulai kesemutan kaku juga mati rasa. Tadaaa...kedua tangan dan kaki akhirnya kena semua. Tadinya ijin sehari buat berobat akhirnya ijin ga masuk kerja sampai kondisi kaki mendingan. Gantinya, akhirnya kerja cuma bisa dimonitor via email doang.

Alhamdulillah di waktu itu kondisinya hanya kaku di kedua tangan juga kedua kaki aja. Ya, seengganya untuk aktivitas lain seperti duduk, makan, atau ke kamar mandi masih lancar tapi emang agak susah dipake jalan aja sih. Things got worse, my parents decide to told to my boss that i must quit from my job because of my condition. They also bought me kruks and wheelchair for easy mobiling, jadi aku ga perlu harus minta tolong orang terus kalau misalnya harus pup atau pipis.

Kondisi seperti ini bikin aku harus menyesuaikan diri jadi anak rumahan, dimana seisi orang rumah masih bisa long weekend bersama temen2 atau pacarnya jalan2 ke mall, aku harus telen pait2 kalo aku ga bisa ikutan liburan kaya yg lain, paling ngenes kalo salah satu anggota keluarga udah liburan keluar kota, di post di socmed, terus aku liat. Iri dengki langsung memuncak lalu aku cuma bisa nangis hehee. Betapa ga adilnya mereka ga ikut mengerti kondisi aku yg lagi kaya gini dengan memposting liburan mereka di socmed, padahal aku serumah sama dia! Why!? Gitulah kira2 kekesalan aku waktu itu hehee. Belum dewasa dan belum bisa menerima keadaan season 1.

Namanya orangtua ya, emang paling ga bisa liat anaknya sedih. Akhirnya suatu hari aku diajak jalan-jalan sama ibu ke mall bersama keluarga adiknya ibu lengkap, mumpung sekalian mereka juga lagi berkunjung kerumah. Asik dong aku ceritanya jalan-jalan pake wheelchair baru. Dan ternyata sampe disana, jadi orang cacat pemula itu di tempat publik itu ga enak banget. Aku baru merasakan gimana rasanya para manula dan difabel lainnya kalo ke tempat publik, minim fasilitas banget dan kerasa banget diskriminasinya.
Pertama baru turun mobil, serasa sejuta mata ngeliat ke aku semua. Mungkin dipikirnya, "widih, anak cewe masih muda udah pake kursi roda. Sakit apa ya? Kenapa ya? Kesian amat" dll dsb. Maluuuuuu banget. Rasanya pengen masuk mobil lagi ga mau turun.
Setelah agak merajuk sama ibu, mau gamau akhirnya aku turun ke mall juga. Tempat mall kaya di PVJ itu, konsep mall nya semi outdoor dan bertema seperti di area park, jalanannya banyak leveling walaupun cuma 2cm tapi buat pengguna kursi roda itu ganggu banget, lebih kasiannya ibu aku mesti angkat kursi rodanya itu bulak balik, kasian beliau, kecapean karna berat banget, mesti angkat beban berat aku plus berat si kursi roda (mengingat moment moment ini jadi pengen nangis, sebegitu besar pengorbanan beliau buat aku) Lift di mall ini jauh banget seperti ada di bagian sayap mall jadi kami agak susah kalo harus turun pakai lift dan jalan jauh ke area pertokoannya. Akhirnya kami pikir baiknya cuma bisa jalan di ground floor aja. Banyak beberapa lahan sempit disana jadi susah buat aku lewat. Dll dsb. Super kapok banget gamau lagi pake kursi roda ke dalem mall. Nggak!

Setelah aku lumpuh, pengobatan 2 bulan pertama cuma dicobain pake obat herbal, kadang akupuntur, kadang akupresur, ditambah coba2 pake alat medis yang suka diiklanin di tivi2 itu lho, macam tv medo'i. Hahahaha (you know what i mean). Progresnya waktu itu bisa dibilang hampir nol kadang ada kemajuan sedikit, karna aku pikir berobat selama lebih dari 2 bulan tapi belum ada efek apapun rasanya kayak buang buang waktu dan buang buang biaya. Masih selalu kesakitan linu juga kesemutan, aku balut lutut juga tangan pakai perban kain kencang2 biar sensasi sakitnya agak sedikit berkurang (yang sebenernya ngga juga) agak gemes sih pengen ke check up ke dokter lagi tapi ibu tetep kekeuh ga mau berobat ke dokter katanya takut aku kenapa2. Baiklah, aku ikut aja maunya gimana. Alhamdulillah waktu itu kondisi ekonomi masih agak stabil dirumah, jadi ibu masih berani berobat apa aja asal aku sembuh gitu katanya. Tentunya selain ke dokter. Oya, kenapa ibu bersikeras ga mau ke dokter lagi dan bergantung dengan putusan dokter, karna beliau punya trauma dulu adik aku pernah kena meningitis sampai harus 15 tahun masa hidupnya bolak balik operasi otak lebih dari 10 kali sampai pernah koma dan kritis, sampai lumpuh seluruh badan, karna beliau terlalu percaya apa kata dokter. Setelah adik kelas 3 smp akhirnya barulah ketauan sebenernya inti dari sakitnya itu bukan di kepala tapi di hidungnya yaitu dia kena sinusitis yang di combine meningitis (jawaban ini baru ketauan dari pengobatan alternatif) dan beliau akhirnya menyesal seumur hidup kenapa si adik aku mesti lewatin operasi sebegitu banyak. Menurut aku sih kalau kita ga lewatin tahap itu semua, pasti kita ga bakal sampai tahap tau jawaban pastinya apa. Ya, namanya juga kehidupan, time to fall time to learn.

Di titik ini, aku mau cerita tentang kondisi psikis aku sedikit. Yang namanya manusia dikasih beban berat sedikit, pasti ada rasa marah, denial, juga frustasi. Alhamdulillah, Dukungan moriil emang ga ada berentinya dari semua keluarga, keluarga besar, temen2 yang gak aku kira ternyata banyak banget yang peduli, tapi disaat merasa sendiri pasti ada aja moment suka frustasi sendiri. Jujur selama aku sakit saat itu aku sama sekali ga berdoa, ga meminta kesembuhan sama Tuhan,  aku merasa Dia itu jahat, udah kasih aku sakit yang se sakit ini. Disaat aku habis putus dari pacar, kegagalan di karir aku, dan harus sakit parah. Itu aku sama sekali ga mau dan ga bisa terima keadaan banget. How arrogant i am being such a 'secuil remah2' on God's eyes? 

Sampai akhirnya di bulan juni atau juli ya? Aku di rekomendasiin sama temen aku yang namanya Bonde ini, sepupunya punya kenalan pengobatan alternatif yang pake teknik 'totok darah' yang udah banyak pengalaman sembuhin pasien2 sakit parah. Akhirnya kita coba berobat sama beliau yang artinya aku dan ibu mesti ke Jakarta seminggu 2x buat berobat. Alhamdulillah berangsur membaik setelah sebulan lebih berobat terapi ini dan akhirnya aku bisa jalan agak normal. Sekitar bulan Agustus aku udah bisa jalan normal dan bisa berkegiatan normal lagi. Menurut bapak terapi ini, ada banyak banget titik titik darah yang menggumpal dan karena badan aku bersifat "dingin" (ada ilmu pengobatan cina yang membagikan kondisi badan dan penyakit seseorang bersifat dingin dan hangat, jadi nanti makanan dan obat herbalnya harus disesuaikan dengan sifatnya masing masing) jadi aku harus banyak makan makanan yang bersifat hangat juga harus banyak berjemur di pagi hari. Mungkin untuk beberapa orang awam banyak banget yang ngga percaya di umur semuda aku tapi udah mengidap rematik. Awalnya aku sebisa mungkin menghindari juga makanan makanan yang bisa indikasi timbul sakit rematik lagi seperti makan makanan yang pait, kacang2an, juga makanan ber kolesterol tinggi.

Itulah cerita season 1. Dimana aku belom menemukan esensi dari sakit yang diberikan tapi ternyata aku mampu melewati semuanya diluar dugaan! Setelah bersuka cita akhirnya aku punya rencana untuk mulai karir lagi seperti bisnis kecil kecilan, karna aku pikir aku masih bisa kembali aktifitas normal. Dan ternyata Tuhan kasih aku jalan lain. Menurut aku perjalanan taun 2015 udah pait banget, dan itu semua ga ada apa apanya dibanding apa yang terjadi di taun 2016 lalu. Lanjut cerita ini lain hari yaa. See yaa

Your wish (secretly) being come true


Yes, its true. Your wish really hear by God and secretly came true and you didnt realized it yet.


Sebenernya aku moody banget nih share tentang my last 2 years experienced. Kaya terkesan pengalaman aku paling berharga tapi sebenernya pengalaman aku ini apalah dibanding perjuangan kalian semua menjalani rintangan hidup (ceilaah). Yaah, karna udah beberapa temen aku liat cerita ini mungkin menginspirasi beberapa dari kalian, jadi yah... baiklah aku cerita. Mumpung 'feel' dan mood malam ini lagi oke.

Jadi, berawal dari awal tahun 2014 yang waktu itu baru beranjak umur 25 tahun dan rasanya penting banget nih bikin resolusi hidup karna aku merasa aku udah gede nih, jadi orang harus berubah. Resolusinya simple, "aku pengen jadi orang yang dewasa juga bijak". Ga ada rencana merubah sikap atau kebiasaan hidup lebih signifikan sih, cuma mungkin Tuhan ngasih jalanNya sendiri untuk menuju goal seperti itu. 

Jadilah sekitar menuju akhir tahun 2014 itu mulai bumpy road. Ya putus cinta, ya salah ambil keputusan dalam karir, ya bikin orangtua kecewa berat karna kesalahan di karir, jadilah agak sedikit depresi sih. Sempet jadi pengangguran 3 bulan dan akhirnya memutuskan usaha kecil - kecilan pake modal seadanya. Ikut event sana sini dengan minim pengalaman di dunia jualan kuliner yang akhirnya banyak yang basi karena belum banyak paham tentang pangsa pasar juga kondisi cuaca.

Modal mulai tipis tapi pas banget aku keterima kerja di Jakarta di sebuah kantor konsultan Interior yang lagi berkembang banget. Lumayan sih, kantor itu udah banyak diliput berbagai majalah desain interior nasional. And this is my story begin..

Baru mulai kerja disana yang staf - staf nya superrr friendly dan program kerja yang lebih teratur dibanding kantor lama. Jalan 3 minggu, i felt my right hand a little bit numb atau mungkin kaya terasa agak keseleo di bagian pertemuan antara telunjuk juga jempol. Sensasinya itu nyeri di telapak tangan, terus ada rasa kesemutan sepanjang tangan bagian dalam. Sakitnya suka dateng sekitar 10menit sekali. Gangguuuu banget waktu kerja sampe rasanya ga kepengen pake tangan kanan aku lagi. Aku tanya sih ke semua staf disana, asumsi nya memang mungkin keseleo atau katanya kebanyakan kerja pake komputer. Thats weird i think, i work with computer at least since 5 years and my hand didnt get any pain at all. Daripada tebak2an akhirnya aku ke dokter sih (pake ijin masuk agak siang tapi kantor oke2 aja?? Ini kantor baik banget sih. Apalah aku pegawai belom sebulan udah banyak ile)
Aku ke RS deket tempat tinggal aku dulu di Jakarta, deket2 Kalibata. Opini dokter pertama, dokter syaraf.
She said, "Ini kayanya kamu kena tendonitis. Tendonitis itu adalah radang tendon yang diakibatkan karena menggunakan salah satu organ kamu (dalam hal ini tangan kanan) terlalu berlebihan. Kamu sakit ini sejak kapan?"
"Udah sekitar 2 minggu lebih dok sakitnya"
"Kok kamu baru diobati sekarang ini udah agak telat ini. Kamu kuliah atau kerja disini?"
"Kerja, dok"
"Kerja apa?"
"Di konsultan Interior"
"Ooh.. kerja di belakang komputer ya? Bisa jadi ini karena kamu kebanyakan pake tangan kanan kamu pegang mouse yang kurang nyaman seperti misalnya ukurannya terlalu kecil. Coba diganti kebiasaan menggunakan barang yang aman dan enak dipakai dikantor. Sesekali bisa istirahatkan dulu tangannya biar ga kerja terlalu keras. Sementara saya kasih dulu obat pereda nyeri nya dulu dan obat untuk ototnya dulu ya. Kalau masih terasa sakit selama lebih dari 7 hari bisa balik lagi kesini untuk suntik nutrisi ke ototnya juga nanti saya rekomendasi ke dokter fisioterapi disini ya."
And yaaa, tangan tetep sakit sampe ga bisa tidur rasanya pengen nangis semaleman, makan susah, mandi susah, setrika baju susah. Dan yang paling menderita itu, ga bisa gunting kuku hahahaha. Akhirnya dipotongin sama temen aku, namanya Bonde, dia temen satu tempat tinggal aku di Jakarta, bareng kakaknya juga sih.

Akhirnya udah disuntik tepat di area yang super sakit (ini suntik tersakit yang pernah dirasa) dan ikut sesi fisioterapi seminggu 3kali. Yaah, namanya juga RSUD, yg antri super panjaaaang mulai dari jam 8 dapet jam 1 siang belom antri ambil obat. Nahan sakit sepanjang di RSnya itu sih yang bikin tersiksa batin. 

Waw, panjang banget ceritanya. Aku persingkat deh biar ga bertele - tele. Selama aku di Jakarta dari Desember 2014 - Januari 2015 sama sekali ga ada progres buat sakit aku yang akhirnya merembet ke tangan sebelah kiri yang akhirnya bikin mental agak down dan jadinya lebih worry. Ini ada yang salah sih. Aku pulang ke Bandung untuk tanya second opinion di RS Bandung. And tadaaa, dokter syaraf disini bilang hal berbeda.
"Saya khawatir ini bukan tendenitis. Saya harus pastikan dulu pake cek darah ke lab dan ronsen untuk tangan kiri nya ya (soalnya saat itu kondisi tangan kiri jadi jauh lebih sakit dari tangan kanan) tapi asumsi saya kamu kena yang namanya Rheumatoid Arthritis (seterusnya singkat RA) yang artinya kamu kena penyakit autoimun yang imun kamu malah jadi menyerang bodi kamu terutama di bagian persendian. Gejala RA ini biasanya dirasakan simetris. Biasanya memang munculnya tidak bersamaan dan butuh waktu. Penyebabnya apa kita belum tau pastinya. Sementara saya cek dulu hasil darahnya apa, kalau memang positif kamu harus saya rujuk ke bagian internis. Saya kasih dulu obat pereda nyeri, obat kesemutan, obat sendi, obat nutrisi kalsium juga obat depresi (wow, saya ada indikasi depresi karna autoimun ini)"
Dan ya, seperti jalan cerita sinetron pada umumnya hasilnya semua positif dan ahirnya aku dirujuk juga ke bagian fisioterapi. 

Karna kondisi diluar dugaan dan agak bikin shock orangtua, mereka pesimis pengobatan dokter nantinya takut berefek samping dan berkegantungan nantinya, mereka memutuskan aku mending berobat herbal dan alternatif aja. Oya, saat posisi ini aku akhirnya balik ke Jakarta buat terusin kerja dan mesti bulak balik tiap minggu pulang Bandung untuk berobat. Cerita pengobatan lanjutan aku lanjutin besok yah. See ya